Sabtu, 12 Oktober 2019

GURU dan MENULIS


Guru merupakan orang yang berilmu, bagaimana tidak, dia telah belajar berpuluh-puluh tahun, Sekolah Dasar (SD) selama enam tahun, Sekolah Menengah Pertama (SMP) selama tiga tahun,Sekolah Menengah Atas (SMA) selama tiga tahun, Strata Satu (S1) selama empat tahun bahkan ada yang Strata Dua (S2) selama dua tahun. Pendidikan formal saja SD-S1 seorang guru sudah belajar sebanyak 16 tahun,bahkan seorang guru menimpa ilmunya bukan hanya belajar pada pendidikan formal saja melainkan selalu berkegiatan menimba ilmu pada pendidikan non formal seperti pesantren atau bergelut pada organisasi-organisasi. Banyaknya belajar menjadikan seorang guru berilmu cukup banyak sehingga keilmuan ini tidak diragukan lagi untuk membesarkan peserta didik menjadi anak yang berhasil dikemudian hari.
Dalam Undang-undang Guru dan Dosen no14 tahun 2005 Bab 1 Pasal point ke 1 dikatakan bahwa Guru adalah pendidik profesional dengan utama mendidik, mengajar, membingbing, mengarahkan, melatih, menilai danmengevaluasi peserta didik pada pendidikan anak usia dini jalur pendidikan formal, pendidikan dasar, dan pendidikan menengah. Tugas yang diemban dalam pengertian guru tersebut menunjukkan bahwa guruitu merupakan orang yang syarat dengan keilmuan.
Mengajar peserta didik di dalam kelas merupakan kegiatan rutin yang dilaksanakan oleh seorang guru, guru mentranfer knowledge dan mentransfer value sebagai kewajiban dirinyan untuk mencerasan para peserta didik. Selain kegiatan mengajar guru juga mempunyai tugas lain seperti mengisi atau mengerjakan berbagai administrasi sebagai bukti pelaksanaan kegiatannya untuk diberikan kepada yang berkepentingan.
Kegiatan menulis sudah menjadi kebiasaan guru yang tidak bisa dipisahkan,ketika mau mengajar maka guru harus mempersiapkan perangkat pembelajaran minimal Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP), dalam penulisan RPP ini guru menuangkan berbagai ide untuk dijadikan pedoman kegiatan pembelajaran yangakan dilaksanakannya nanti. Penulisan RPP ini menjadikan guru terbiasa menuangkan gagasan dan idenya dalam bentuk tulisan. Kebiasaan menulis RPP menjadikan guru terlatih menjadi seorang penulis.
Kegiatan menulis bagi seorang guru harus dibiasakan sebab dengan menulis ilmu yang dimilikinya akan bermanfaat lebih yang nantinya bisa dirakan bukan hanya oleh peserta didik melainkan oleh mereka yang membaca karya tulis dari seorang guru tersebut. Dalam Permenpan RB nomor 16 tahun 2019 tenteng jabatan fungsional guru dan angka kreditnya. Guru dituntut untuk membuat karya tulis ilmiah dan publikasi ilmiah ketika akan mengajukan kenaikan pangkat. Tuntutan ini harus menjadi motivasi bagi seorang guru untuk membiasakan diri menulis.
Di lapangan terkadang kita banyak sekali menemukan guru yang susah untuk menulis, berbagai alasan diungkapkan penyebab ia tidak menulis mulai dari sibuk, susah mencurahkan gagasan dalam bentuk tulisan, tidak tahu harus darimana ia memulai dll.
Ada sebuah ungkapan bijak "Tulisan yang buram lebih baik ketimpang otak yang jenius.", "Ikatlahlah ilmu dengan menulis.". Pepatah itu mengajak kita untuk senantiasa menulis sebagai bakti kita menghargai ilmu, orang zaman dahulu sudah banyak yang membiasakan dirinya untuk menulis sehingga kita banyak menemukan para tokoh dengan berjilid-jilid buku karangannya. ImamMalik dengan karyanya Al Muwattha,Imam Syafi'i dengan kitab al-umm.Imam Ahmad dengan Musnad-nya, Buya Hamka dengan tafsir Al Azharnya dll. Para ulama telah memberikan contoh kepada kita untuk senantiasa menulis sebab sebuah peradaban itu dibangun dengan ilmu pengetahuan.
Ilmu yang kita tulis dalam buku akan menjadikan nama kita lebih panjang dari umurkita, bahkan ilmu kita akan bermanfaat terus walau pun kita telah meninggal dunia. bukankah amal yang akan menolong kita diakhirat salah satunya adalah ilmu yang bermanfaat. Anak didik kita bahkan keluarga kita ketika ia merindukan kita sewaktu kita sudah tiada maka ia akan meluapkan kerinduannya dengan membaca karya kita, buku tersebut juga bisa menjadi alat orang yang membacanya mendoakan kita.
Kedahsatan menulis bisa kita lihat dari salah satu perkataan Sayyid Quthb "Satu peluru hanya bisa menembus satu kepala, tapi satu telunjuk (tulisan ) mampu menembus jutaan kepala.". Jadi tak ada alasan lagi kita sebagai guru untuk tidak membiasakan menulis. 
Menulis akan mudah ketika kita sudah membiasakan untuk menulis, tulisan akan terasa baik ketika jam terbangnya sudah cukup lama, Bang Tere Liye membiasakan menulis ketika usia 10 tahun sehingga sekarang sudah terkenal dengan karya-karya tulisnya. Menulis tidak bisa langsung mahir dalam hitungan hari, keterampilan ini memerlukan sebuah proses. Sekarang kita sebagai guru sudah saatnya membiasakan menulis supaya kita tidak hanya mencerdaskan peserta didik dengan mengajar dikelas tetapi kita juga mencerdaskan warga bangsa dengan buku kita.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

PERAN GURU SEBAGAI FASILITATOR

  Dalam dunia pendidikan yang terus berkembang, peran guru tidak lagi terbatas pada penyampaian materi pelajaran semata. Salah satu peran pe...